Dukaku Lewat Puisi

Puisi sebagai produk sastra sejak lama menjadi media merekam beragam hal. Penyair Sosiawan Leak pernah menggalang puisi menolak korupsi. Itu sebagai manifesto penyair dari sejumlah daerah di Indonesia mengutuk perilaku koruptif.

Meski bentuknya sederhana, jangan dianggap puisi merupakan persoalan gampang. Memeras ide ke dalam minim kata sudah tentu bukan pekerjaan mudah. Membaca esai sekilas jauh lebih bisa dipahami ketimbang mengeja dua larik puisi.

Gempa berujung Tsunami di Aceh di ujung tahun 2004 silam, telah menarik kelompok sosial untuk terlibat mendalami luka dan merasakan penderitaan korban. Dari musisi, lahir album berisi lagu yang merekam duka itu. di Makassar pun terbit buku antologi puisi bersama merekam duka Aceh.

Selain puisi, sejumlah karya sastra berupa cerpen juga tersiar di media cetak. Azhari, cerpenis asal Aceh, meski lebih dulu menerbitkan buku kumcer Perempuan Pala sebelum Tsunami terjadi, sebagai orang Aceh, firasat mengenai gulungan ombak menyapu daratan sudah ia sajikan di dalam salah satu cerpennya.

Aceh, seolah negeri yang tak henti didera duka sejak era kolonial. Di pengujung tahun 2016, tepatnya 7 Desember lalu, gempa kembali terjadi di Pidie. Wilayah yang juga berantakan disapu Tsunami di tahun 2004.

Hal ini mendorong komunitas seniman di Jakarta membangun jaringan kerja dengan elemen masyarakat Aceh yang berdomisili di ibu kota negara untuk membuat satu gerakan dalam memberikan sumbangsih kepada korban gempa di Pidie.

Hasil penjualan buku akan didonasikan kepada korban

Willy Ana dan Mustafa Ismail, dua sosok dibalik kerja kreatif ini dalam penerbitan buku antologi puisi yang menghimpun sajak sejumlah penyair. Selain nama tenar dalam peta puisi di Indonesai yang terlibat, seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Eka Budianta, Gol A Gong, dll. Juga penyair dari Malaysia, Nelson Dino turut megirimkan puisinya.

Ide pembuatan buku bermula dari obrolan Willy dengan Mustafa Ismail yang memang berasal dari Pidie. Keduanya lalu berbagi tugas dan membagikan ide mereka ke sejumlah teman dan grup percakapan. Dari sanalah kemudian respons berdatangan agar ide tersebut segera direalisasikan.

Buku yang dijuduli 6,5 SR Luka Pidie Jaya akan diluncurkan dalam acara Refleksi Gempa Aceh di Boulevard Coffe & Resto, Apertemen The Boulevard di jalan H. Fachruddin No. 5 Tanah Abang, Jakarta Pusat pada 20 Januari yang dimulai pada pukul 19.00. Demikian rilis yang dihimpun Saraung.Com dari obrolan WhatsApp.

Lebih lanjut, hasil penjualan buku akan didonasikan kepada korban. Menurut Willy, sejumlah penyair akan turun ke lapangan melakukan pembacaan puisi di hadapan korban sebagai bentuk terapi untuk memulihkan trauma. (***)

X

Pin It on Pinterest

X
Share This