Dialah Ikhtiarku

Gelap perlahan tetapi pasti mulai menyapu jagad. Beberapa kawanan ayam berlarian lalu mengibaskan sayapnya meraih seranting dahan pohon. Ada yang berhasil meraih puncak dan selebihnya berada di ranting bagian bawah. Sebentar lagi mereka akan lelap. Aku, masih duduk di teras sebuah banguan yang bukan milik siapa-siapa dari keluargaku. Pikranku berkelabat. Kadang juga meluap sejadi-jadinya. Keadaan seperti ini kunikmati berhari-hari, bulan bahkan tahun.

Dekat dengan keluarga tak banyak yang mampu berubah di kampungku. Kalau tidak di laut, mau ke mana lagi. Kenyataan itu kulihat dari sederet nama teman sebayaku yang, walau diwahyui tamat sekolah dasar di kampung, tetap saja laut pulalah tumpuan hidup keluarganya. Bahkan lebih dari setengah anak teman sepelajaranku yang bersekolah waktu itu belum lagi tamat, panah ikan sudah jadi semacam candu bagi mereka.

Dengan tekad membatu. Aku mengusung diri ke kota. Berbekal orang tua yang ditiupi lebih angin peduli pada pendidikan anak. Sehat pikir lagi lihai merangkul hati beberapa keluargaku di kota. Aku memunggungi kampung halamanku dengan berbagai cerita menggemberikan dan tidak sedikit mengharukan. Gembira karena punya kesempatan belajar di luar kepompong budaya kampung. Sedih karena lama waktu itu akan tiba masa bersua lagi dengan teman, air dan angin pantai yang menghitamkan kulitku, juga wanita penyayang yang melahirkanku, tentu saja.

Sekelumit kegelisahan dalam hatiku di awal malam itu akhirnya berkawin dengan khayalku. Saban hari aku lebih banyak menggandrungi novel ketimbang menekuri lantai putih kampus mendengar syair indah para dosen. Aku mahasiswa semester lima yang jarang masuk. “Bagaimana hasilnya kelak”. Aku membatin. Namun, aku tidak menjatukan kesalahan itu sepenuhnya pada diriku. Selain karena aku memang lebih tertarik belajar di luar kampus, juga memang tidak ada alasan bagiku supaya keberadaanku di kampus sama seperti apa yang diinginkan kampus. Aku tidak mungkin berjalan kaki dengan jarak yang bukan main jauhnya dari indekosku ke kampus. Lagian, kebiasaanku berkeliling pantai sudah kutinggalkan semenjak saya belajar ilmu di kota ini belasan tahun yang lalu.

Terkadang aku menebalkan muka minta diantar sama teman. Namun, untuk seterusnya rasanya itu mustahil bagiku. Aku orang yang hampir tidak pernah merasai berkendara selama bersekolah sejak sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Jangankan sepeda motor, telepon genggam pun masih sangat gagap di tanganku. Uang pesangon yang dikirimkan untukku setiap enam bulan sekali lebih puas jika kubelikan buku bacaan. Meski sebenarnya uang itu diperuntukkan bagi kuliahku. Aku tidak pernah berpikir menyimpan uang itu untuk keperluan semewah motor atau telepon genggam. Betapa berat hati bila harus menulis surat ke pulau meminta uang pada orang tuaku yang juga semakin dihimpit kebutuhan ekonomi sejak ayahku yang perkasa dan ulet itu jatuh sakit didera penyakit stroke di usiaku yang tergolong cilik. Kelas lima sekolah dasar. Untungnya, ibuku wanita pesisir perkasa. Iya, tentu saja. Meski begitu, sebagai putra sulung. Praktis, aku mulai dirembesi juga beberapa pikiran berat.

Sekolahku gagal manakala di kota sebesar ini bisaku hanya cangkruk di kamar saban hari. Orangtuaku, keduanya tamatan sekolah dasar. Meski almarhum, kakekku, seorang imam besar ditaati semasa hidupnya di kampung, bukan berarti keluargaku sempurna dan mapan. Dalam ingatanku, meski aku tak pernah sekali pun diajari langsung oleh kakek. Namun, aku percaya pemahaman agamanya pasti paripurna. Terjawab seperti apa yang kulihat pada diri ayahku. Tekun dan sedikit menekan dalam soal agama. Mungkin dari kakek jugalah cikal bakal aku mendapatkan tularan ilmu membaca Alquran yang sedikit fasih ketimbang beberapa saudaraku. Tapi, apakah hanya sebatas itu protes pada diriku.

Malam kian mendekati larut. Aku belum juga berhasil berkompromi dengan ide yang lebih gemilang sampai silau cahaya matahari di selah jendela membangunkanku. Anak-anak mahasiswa sepertiku yang lain masih terlelap. Aku mendengar diskusi mereka semalam cukup alot.

*

Jejentik waktu bergerak lamban seolah kian membuatku enggan melakukan apa-apa. Biasanya pagi seperti ini sudah ada beberapa teman perempuan yang datang membawa sarapan. Termasuk seorang mahasiswi kebidanan. Namanya Mahadia. Panggilannya, Dia. Aku mengenalnya belum terlalu lama lewat kegiatan sosialisasi yang sering kali saya lakukan bersama beberapa mahasiswa dari kampus lain untuk menggoda minat organisasi mahasiswa. Rupanya kami saling menaruh perhatian yang lebih satu sama lain. Tetapi, masihsebatas melalui pesan singkat. Selanjutnya kami bersepakat untuk menguji kehalusan rasa masing-masing. Hingga berjalan dua tahun kami masih tetap konsisten saling percaya. Gadis itu urung juga memperlihatkan tanda-tanda kehadirannya pagi ini.

Matahari memang sudah meyilaui segenap mayapada. Aku tetap saja diancam kesunyian melompong di pagi yang bingar. Apa boleh buat, dunia buku adalah dunia penyembuh luka kesunyian. Aku mulai kembali memilah buku untuk kubaca. Telepon genggamku berdering memecah hampa ruang yang ada. Kutatap dengan jelas siapa yang menelon. Rupanya, guru sekaligus orangtuaku. Seperti ada keutuhan yang terancam. Paman tumben meneleponku. Ada hal penting apa. Dengan segenap kelembutan dan kebaikan hati yang selama ini tidak kutegakkan. Aku menjawab telepon beliau. “Assalamu Alaikum”. Salam itu saja yang sempat kuucap. Selebihnya aku hanya mengiayakan saja sebelum kututup lagi dengan salam.

Tahukah engkau apa yang kudengar baru saja. Aku hampir berteriak dan bahkan sudah setengah melompat. Ada kegirangan yang mendadak tak kuasa kuperinci dengan syair gaya manapun. Kuceritakan kepada Dia perihal tentang itu. Karena aku sudah sangat menegenalnya. Tentu aku sangat paham akan adanya kesedihan menyeruak di hatinya. Benar saja. Hari di mana aku akan ke pelabuhan. Kali pertama, ia memegang tanganku dengan erat. Bersimbah air mata dan kuberanikan diri kuusapkan sendiri dengan tanganku yang sedikit kasar. Aku dan dirinya berjanji hendak saling menjaga kepercayaan itu sampai aku kembali nanti.

Sebentar lagi aku akan berangkat ke Jawa. Tempat yang selama ini hanya kususuri dengan detail di dalam novel. Meski hanya diajak menemani anak Paman yang hendak nyantri di pondok pesantren karena tingkahnya sulit diredam. Aku juga berkesempatan belajar di pulau banyak cerita itu. Apalagi aku punya tekad menambah hafalan Alquran yang hanya beberapa juz kudapat sebelum disibukkan kuliah. Dan, aku hanya perlu waktu seminggu menahan rasa penasaranku. Sekitar tiga puluh menit lewat jam sebelas malam. Kapal Dobon Solo, sudah memebelah perairan laut Makassar. Tidak ada perasaan yang aneh menyambutku di atas kapal. Beberapa saat, hampir juga aku menetikkan genangan air di kantong mataku. Sekali lagi, Dia terisak di ujung telepon malam itu. Aku terus berbenah diri. Belum saatnya luruh. Aku tidak asing dengan kendaraan ini. Aku orang pulau terpencil yang sebentar lagi melenggang di tanah Jawa. Menaklukkan dua pulau besar. Aku bangga sebelum waktunya.

Pesantren memang kerap kali hinggap dan menggangu di kepalaku semenjak aku kuliah. Mata kuliah di sekolah tinggi agama Islam tempatku berkampus itu yang tentu saja semua matanya kuliahnya sedayun dengan latar belakang kampus, menjadi masalah tersendiri bagiku. Aku berasal dari sekolah negeri di mana pelajaran agama hanya beberapa jam saja. Aku butuh jam lebih belajar agama. Tepatnya, dasar. Karena itulah aku merindukan pesantren untuk belajar Alquran dan ilmunya.

Sehari semalam di atas besi terapung, akhirnya tibalah aku dan sepupuku yang baru saja selesai ujian SMP. Di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Tentu saja perasaan takut hilang di kota besar ini tidak pernah terseret lengser dari dadaku. Beberapa nomor telepon yang berhasil kuhubungi di kota ini membuat sedikit demi sedikit ketakutanku hilang dan mulai menata niatku di atas bus mini yang melaju dari Kediri ke Blitar. Sebelumnya kami singgah di Pare. Sejenak menyicip cita rasa kampung Inggris. Selanjutnya, dengan berboncengan tiga, pengojek menuntun kami menuju pesantren sebagai dunia baruku ini di daerah Krenceng, Blitar. “Ini dia pesantrennya, Mas”. Ucap pengojek.

Satu buah koper serta masing-masing rangsel yang kami bawa, kutata dengan baik sebelum kuucapkan salam tepat di pintu gerbang pondok. Tidak ada yang mendengar. Memang sengaja kukecilkan. Aku mengucap salam bukan sekedar pada orang yang ada di dalam pondok ini. Tetapi kepada segala hal baru yang membentang di depan mata. Aku melangkah masuk di depan sepupuku yang tahunya hanya diam. Tepat sebelah kanan gerbang aku berpapasan tatap dengan seorang santri. Tepatya santriwati. Hanya seprsekian detik lalu dia menjatuhkan pandang dan berbalik ke dalam ruangan tempat ia hendak keluar tadi. Ihwal tempat itu ternyata adalah dapur dari rumah Kiyai di mana setiap sore santriwati bergiliran masak di sana untuk makan malam.

Seiring keberadaanku di pondok sebagai santri baru. Banyak hal yg diperkenalkan padaku seputar pesantren dan isinya. Tidak terkecuali para santriwatinya. Aku menjalani hari-hari di pondok dengan normal mengikuti tata krama yang berlaku. Aku hanya punya waktu setahun menyecap cita rasa pesantren ini. Aku terus memanggul semangat belajar yang tinggi. Aku tidak pernah alpa menambah setoran hafalan di subuh hari dan mendaras hafalan selepas asar. Sedikit demi sedikit hafalanku bertambah. Bahkan aku juga ikut kelas belajar bahasa Arab dan Nahwu serta beberapa pengajian kitab yang tidak begitu banyak mampir di kepalaku.

Beberapa kali aku ikut kelas, aku jadi melihat ada sesuatu yang mencolok di dalam. Menyita perhatianku. seorang gadis yang nampak lain dengan beberapa santriwati teman sekelasku. Ia setiap malamnya hanya menunduk dalam kelas. Mulutnya terkatup rapat. Tetapi dapat kupastikan. Air wajahnya tedu tenang. Meski tak berusaha senyum. Sesiapa saja pasti berucap: ia cantik.

Aku mulai mengaguminya. Belum pernah kutemukan perempuan sependiam gadis itu. Ungkapan itu terlontar bukan karena aku sedang ditiupi angin cinta. Memang, dia makhluk membosankan yang memikat. “Satu kalimat darinya adalah seribu inspirasi kehidupan”. Itu menurut beberapa santri yang ikut terkesima padanya.

Suatu ketika saat malam pelajaran tajwid. Guru berhalangan hadir. Kami bertujuh dalam kelas sudah siap dengan tugas-tugas yang minggu kemarin dikasih. “Guru tidak ada”. Ini kesempatan. Aku mulai keluarkan jurus mahasiswaku menghadapi dua orang santri dan empat santriwati di kanto rsekaligus kelas ini. Termasuk gadis pemalu itu. Aku menawarkan permainan tebak-tebakan. Semuanya setuju kecuali santri pendiam. Dia tidak memperlihatkan tanda apa-apa. Diam saja. Aku menganggapnya setuju saja. Sontak kelas menjadi riuh karena permainan. Aku berhasil membuatnya tersenyum. Betapa bangganya aku. Aku kembali merasakan perasaan yang sama saat di kapal. Bangga bukan pada waktunya. Kali ini sedikit berbeda. Bukan sekadar bangga. Senang dan ada rasa ingin selalu menghadirkan senyum itu di bibirnya. Lalu menjaganya.

Namanya Ikhtiar. Dia sendiri yang mengenalkan dirinya berkat permintaanku malam itu. terima kasih Pak Aji. Guru tajwidku yang tidak hadir malam itu. Karena kejadian malam itulah, aku malah jadi bahan pergunjingan teman santri dan santriwati. Namaku sering disertakan di belakang nama Ikhtiar. Begitupun juga sebaliknya. Awalnya aku risi. Lama kelamaan jadi terbiasa. Malah, aku jadi senang dengan keadaan itu. karenanya setiap berpapasan di dapur, ia pasti menyempatkan melambai senyum padaku dahulu sebelum kembali menunduk dan berlalu dengan diamnya.

Apakah ia atau aku sedang jatuh cinta. Lalu, apakah yang kutinggalkan di Makassar juga adalah cinta. Entahlah. Aku mulai taarufan secara diam-diam. Bahaya juga kalau samapai Pak Kiyai tahu. Beberapa kali aku mengirimkan surat lewat teman santriwati. Dan aku selalu jadi penunggu musala aktif. Begitu caraku mengintip senyumnya dalam perjalan menuju dapur. Bila sudah seperti itu, sering kali membisik di dada kalimat Pak Kiyai kepada saya. “Perbaiki niat dan jangan malas. Makassar itu jauh.” “Maaf, Mbah, aku mulai merasa tentram dengan sikap santriwatimu yang satu itu kepadaku”.

Aku mencatat kata-kataku itu di buku kecil di musala saat itu juga sesaat Ikhtiar lepas dari pandanganku. Lenyap ke dalam dapur. Aku pun tidak ingin secepat itu menyimpulkan perasaanku. Kalau cinta, aku percaya tiada noda dan khilaf di dalamya.

Jelang kepulanganku dari pondok itu, kami semua berduka. Guru yang kami taati tutup usia di sore yang gerimis. Pondok diselimuti duka kehilangan empunya . Aku semakin sadar bahwa segala apa yang terjadi dan berhasil aku jalani sejak awal adalah karena suatu alasan. Itulah ikhtiar. Dan, gadis yang mengisak tengisnya sebelum aku berangkat hanyalah sebagian dari anugerah yang tetap harus diikhtiari. Karena baik Dia maupun Ikhtiar, pada akhirnya tetaplah ikhtiar. Usaha. Di mana tanpa Dia itu, selamanya aku akan lumpuh inisiatif dalam segala upayaku. Setahun di pesantren, akhirrnya aku raib kembali ke duniaku di Makassar menemui kembali Dia dengan ikhtiarku.

*

Makassar, 2016

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This