Corat-Coret dan Saluran Berdemokrasi

Corat-coret di tembok bukanah suatu hal yang baru. Mencoret sudah bisa dilakukan oleh seorang bocah, anak sekolahan, mahasiswa, bahkan orang tua. Mengapa, karena mencoret itu naluri alamiah setiap manusia. Tetapi, corat-coretnya harus positif, kreatif, dan di tempat yang layak.

Saya tidak tahu, selain naluri alamiah, apakah perilaku mencoret termasuk tradisi turun temurun. Sebagai contoh, kita bisa lihat di meja atau kursi kelas di sekolah, tembok, pagar, atau di rumah. Mengapa selalu saja ada coretan yang kesannya ingin menyampaikan sesuatu.

Contoh lain, lihat saja beton jembatan baru sungai Pangkajene. Dibangun dengan mulusnya, eh malah dicoreti. Dan, coretannya juga tidak sedap dipandang mata. Ada yang menuliskan nama bersama pasangannya, puisi, nomor hape, hingga menyatakan ungkapan perasaan kepada seseorang.

Padahal, jembatan itu sudah dirancang bergaya arsitektur modern. Coba saja berfoto di pinggir sungai depan rumah toko berlatar jembatan baru. Anda akan mendapatkan momen indah seolah sedang di luar negeri.

Seingat saya, di era pemerintahan bupati H. Andi Baso Amirullah pada periode 1994-1999. Tepat di jantung kota, ada satu tembok yang memang diperuntukkan buat siapa saja yang mau mencoret. Terserah mau menulis apa, semua bisa dan boleh dilakukan.

Tembok berukuran sekitar 4 x 6 meter itu dinamai Panggung Corat-Coret, konsep bangunannya memang berupa panggung terbuka yang sering dijadikan tempat pagelaran musik. Di bagian belakang itulah memanjang tembok sebagai ruang menuliskan isi hati.

Karena siapa saja boleh mencoret dan tak mengenal waktu. Jadi, coretan awal akan tertutupi coretan yang baru. Ada yang menggunakan cat, spidol, bulpoin, dan cat semprot (pilox). Namun, seiring waktu dan bergantinya bupati. Panggung Corat-Coret itu pun raib, digusur imajinasi pembangunan tata ruang yang lain. Kini, di lokasi itu berdiri bangunan yang dirancang sebagai salah satu pusat kuliner di Pangkep.

Corat-mencoret itu sebenarnya sama sekali tidak dilarang, hal itu merupakan seni dan kreatifitas. Masih ingat aksi Pong Harjatmo, aktor gaek yang, pada 30 Juli 2010 silam, tindakannya sungguh mengejutkan, dengan entengnya ia memasuki gedung DPR RI dan langsung menuju atap dan menuliskan tiga kata: JUJUR-ADIL-TEGAS.

Hal itu, katanya, ditujukan untuk mengeritik kinerja DPR. Ungkapan itu tentulah sebagai kekecewaan dan keprihatinannya sebagai rakyat Indonesia atas kinerja anggota DPR kita di Senayan. Bagi saya, kritik itu boleh saja, tetapi aksi mencoret yang dilakukan Pong Harjatmo tidaklah layak. Bukankah negara ini menganut sistem demokrasi. Sebaiknya dan sepatutnya, ketika ada masalah, kita perlu duduk bersama dan berdiskusi. Bukan dengan aksi yang menurut saya sangat kekanakan.

Seiring waktu dan bergantinya bupati. Panggung Corat-Coret itu pun raib, digusur imajinasi pembangunan tata ruang yang lain.

Mencoret itu memang butuh keberanian. Berani diekspose dan berani malu-maluin. Tetapi, sebagai generasi muda yang baik, kalau mau mencari kreatifitas lewat corat-coret, haruslah pada tempat yang layak. Saya kira masih ada kertas atau kanvas yang memang bermanfaat dan berguna bagi diri kita pribadi dan masyarakat. Apalagi sekarang eranya sudah canggih. Sudah banyak media menuangkan protes melalui coretan.

Meski begitu, perlu memang ada fasilitas mencoret di ruang publik sebagaimana dulu keberadaan Panggung Corat-Coret di Pangkep. Tentu, ada kesan tersendiri jika coretan itu berbentuk mural di dinding tembok. Metode ini sebagai saluran bagi generasi muda supaya tidak menuangkan kreatifitasnya di sembarang tempat dimana tidak semua orang mampu menerimanya. Sebab, bukankah corat-coret juga merupakan suara dalam berdemokrasi

*

Foto: Ruang tunggu publik di perempatan jalan Andi Mauraga, Kel. Tumampua, Pangkep yang penuh dengan coretan.

mm

Riandra Ria Hamriah

Awal kemunculannya di publik Pangkep sebagai penyiar radio di tahun 2007-2010. Kemudian jurnalis di tahun 2011-2014.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This