Buku, Mereka, dan Kita dalam Semangkuk Paradoks

“Hanya Socrates, salah satu manusia mulia di dunia yang tidak sempat menuliskan pikirannya,” tulis Naguib Mahfouz, novelis asal Mesir, peraih Nobel Kesusastraan tahun 1988. Pernyataan tersebut sebaiknya dimaknai sebagai ungkapan alegoris saja. Mahfouz, saya kira, sebatas melempar propaganda. Bisa juga lelucon yang, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat tertawa. Ia tahu apa makna buku secara lahiriah dan ruhaniah.

Perdana Menteri Inggris dekade 1940 hingga 1950 an, Winston Churchill, sekali waktu melontarkan pernyataan bersifat alegoris juga, “Menulis buku adalah pekerjaan yang menyiksa diri.” Moehammad Hatta, bapak bangsa kita yang kalem tetapi keras pendirian itu, paham betul sabda Churchill. Ia tak banyak melahirkan buku macam Tan Malaka. Itulah mungkin, mengapa ia rela dipenjara asal ditemani buku.

Lebih tragis sekaligus melankoli, Perdana Menteri kedua di awal pemerintahan Indonesia, Amir Sjarifuddin harus menjalani hukuman mati di era kabinet Hatta karena terlibat peristiwa Madiun 1948. Dalam perjalanan di atas kereta menuju tempat di hadapan regu tembak, ia memilih membaca buku sastra karya William Shakespeare, Romeo dan Juliet, satu-satunya buku dibawa penjaga kala itu yang diberikan untuknya setelah petugas menanyakan permintaan terakhirnya.

Musso, dedengkot PKI kelas wahid sepulang dari rantaunya di Sovyet di tahun 1948, disambut hangat oleh Soekarno di Istana. Kala pamitan, Soekarno memberinya buku berjudul Sarinah yang baru diterbitkan. Tak mau kalah, Musso akan menulis buku juga sebagai balasan. Terbitlah buku tipis yang dikenal di kalangan kaum pergerakan Djalan Baroe Musso.

Buku, di balik wujudnya berupa kertas berjilid, mengandung beragam friksi dan merupakan paradoks itu sendiri. Buku melampaui maknanya yang terangkum di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Nah, adakah di batok kepala kita tersimpan buku apa terakhir dibaca. Di era tekologi informasi yang sudah ada dalam genggaman. Menemukan referensi berupa bacaan bukan lagi hambatan. Namun, adakah kita benar-benar meninggalkan buku? Menggeliatnya klub baca, perpustakaan komunitas, jaringan pustaka berjalan yang diinisiasi Nirwan Ahmad Arsuka merupakan jawaban kalau buku tidak akan menemui ajal.

Di Pangkep, ada Pop Up Library yang dihadirkan seorang anak muda lulusan S2, Rahmat HM. Sebelumnya, di lingkungan kampus STAI DDI Pangkep, Ibnu Mudzir bersama kawan-kawanya menggerakkan KACA (Komunitas Anak Baca), Muhammad Syahrir, pemuda yang diakrabi dengan sapaan Presiden Archutisme terus mengupayakan perpustakaan komunitas Mabaca-Baca yang sedang dirintisnya. Terbaru yang singgah di pelupuk mata kita, Babinsa Desa Tompo Bulu, Sersan Dua Arifuddin melengkapi motor dinasnya dengan boncengan buku.

Buku, di balik wujudnya berupa kertas berjilid, mengandung beragam friksi dan merupakan paradoks itu sendiri. Buku melampaui maknanya yang terangkum di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Jika nama Che Guevara dihapus dari sejarah, barangkali saja yang marah hanya kaum kiri di dunia atau yang bersimpati dengan pejuang revolusi Kuba itu. Jika permainan Pokemon Go diharamkan, kita bisa duga kalau yang menolak, adalah mereka yang gemar memainkannya. Jika Messi pada akhirnya memilih mundur dari tim nasional Argentina karena sudah tiga kali gagal di final, itu sepenuhnya derita yang harus ia tanggung. Tetapi, jika buku hendak dihapus dari sejarah umat manusia. Saya kira, bukan hanya Tan Malaka yang akan bangkit dari kuburnya. Hitler yang dikenal fasis itu bakal tidak terima.

Sapa bilang Orba melalui sekolah tidak mengajak kita membaca. Bukankah pelajaran dasar mengeja: Ini Ibu Budi/Ini Ayah Budi/Ini Kakak Budi/ merupakan contoh terbaik yang pernah ada dalam urusan belajar membaca yang menjadikan anak-anak sekolah merasa bagian dari keluarga Budi.

Orba juga mengalokasikan dana tidak sedikit proyek pembacaan buku babon doktrin negara melalui penataran P4. Waktu kecil, buku paket P4 saya dapati ada lima eksemplar di rumah. Bayangkanlah berapa banyak jumlah buku itu di seantero nusantara.

Saat kawan netizen di Facebook, Asran Idrus, memosting aktivitas Babinsa Desa Tompo Bulu yang memasangi boncengan buku di motor dinasnya dengan tujuan menyajikan bacaan bagi masyarakat di daerah terpencil yang menjadi wilayah kerjanya. Ada tanya menggelantung, benarkah militer sudah berubah memandang kegiatan membaca masyarakat. Tak berselang lama, masih dari media sosial, metode yang sama diterapkan pula sejumlah Babinsa di wilayah yang lain. Besar kemungkinan kalau program ini bukan inisiatif personal Babinsa melainkan instruksi dari atas.

Seorang kawan yang lain melalui chating WhatsAP, sudah menaruh curiga perihal kegiatan pustaka bergerak Babinsa itu. Menggunakan analisis strukturalisme, Badauni A Palinrungi, nama kawan itu. “Coba perhatikan baik-baik, program Babinsa membawa buku ke wilayah kerjanya terjadi tak lama setelah militer melakukan sweeping hal-hal berbau kiri,” ungkapnya.

Di sepanjang bulan Mei dan Juni, militer kembali menghembuskan pobia komunisme. Jadi, jangankan buku kiri, Kreator, band metal asal Jerman yang menggunankan palu arit di sampul albumnya kemudian cover itu beredar di Indonesa sebaga gambar di baju kaos, tidak lepas dari pembredelan. Dan, Senin kemarin, 22 Agustus, di Taman Cikapayang, Dago, Bandung, Jawa Barat. Komando Daerah Militer III Siliwangi membubarkan perpustakaan jalanan yang diadakan komunitas di sana.

Oleh militer dianggapnya mengganggu ketertiban umum karena gelaran buku berlangsung hingga tengah malam. Kekhawatirannya juga dikaitkan dengan aksi pembegalan. Loh! ini maksudnya apa. Bukannya militer harusnya senang karena tugas perpustakaan bergerak yang dijalankan para Babinsa terbantukan. Jadi militer di kota tak perlu lagi repot menjalankan hal yang sama. Kalau pun mau, mereka bisa bersatu.

Buku sebagai wujud kesatuan literasi tentu saja tidak bebas nilai. Al Ghazali dalam Tahafut Al Falasifah menuding para filsuf menuju kerancuan berpikir. Mulut besar Al Ghazali kemudian disumbat oleh Ibn Rusyd yang membuktikan sesat pikir Al Ghazali di buku Tahafut at Tahafut.

Pada tahap itu, literasi menemukan ruang lapang untuk bergerak. Dua buku klasik itu terus dibaca hingga kini. Lain hal jika buku dilarang dibaca sebelum dipahami. Berasa kita ini teraduk dalam semangkuk prasangka. Jangan-jangan, mereka yang membaca buku yang dianggap berbahaya itu akan membangkitkan hantu yang sudah lama berkalang tanah.

*

Ilustrasi: https://www.facebook.com/zenrs88?fref=ts

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This