Bukan Catatan Seorang Demonstran

Salama menjadi buah bibir di seantero dusun Barat Pulau Butung-Butungan. Wajah dan sekujur tubuhnya seperti habis dimassa gerombolan tawon. Setelah kembali dari Makassar bersama keluarga kecilnya, ia lebih banyak berdiam di gubuk reotnya yang kumuh dan hanya sesekali terlihat di sekitar rumahnya. Itu pun bila sekadar menyapu sampah atau menjemur pakaian. Perempuan yang baru beberapa bulan usai melahirkan anak keempatnya itu terlihat bengkak sebadan.

“Orang hamil memang biasanya bengkak. Tetapi hanya pada bagian tubuh tertentu saja seperti jari tangan atau kaki”. Kata ibuku pada suatu sore.

Mama Pudding, panggilan untuk Ibu Salama, sepengetahuan orang-orang di kampung, urunglah ia akan hamil lagi dalam waktu dekat dikarenakan ditangani langsung dokter di kota Makassar. Hal yang langka dilakukan bagi wanita hamil di pulau ini. Sando, perempuan ahli tempat bersalin para ibu, mengatakan sudah cukup. Begitulah masyarakat menyimpulkan. Salama bahkan baru hitungan hari memberi nama pada si buah hatinya yang baru.

Usai melahirkan pada salah satu bidan praktik di kota Pangkajene, ia bersama suami dan empat orang anaknya lumayan lama menetap di kota kabupaten. Hidup di kota bagi banyak orang pulau semisal keluarga ibu Salama adalah satu dari sekian banyak himpitan hidup. Bukan hanya tempat tinggal yang mesti diupayakan, tetapi juga kebutuhan makan sehari-hari.  Bapa Pudding, suaminya, hanya beroleh makan bila menghadapi laut. Tentu saja semua akan diraih bila berada di kampungnya di Desa Kanyurang sana.

Untunglah ada rumah keluarganya di pinggiran sungai Marana, Jagong yang bisa ia tinggali karena si pemilik rumah berada di pulau. Di rumah itulah selang beberapa waktu meminang-minang si bayi mungilnya yang lucu. Aku pun turut berdiam bersamanya sejak lama, semenjak kuraih seragam putih abu-abuku belasan tahun lalu.

Beberapa saat aku terhenyak membuka penutup makanan di atas meja. Palumara tiga ekor ikan gabus berukuran besar terhidang di piring. Seketika selera makanku lenyap. Tak banyak orang pesisir doyan pada ikan yang biasa hidup di selokan itu. Aku lebih memilih menahan lapar dari pada bersantap siang di rumah atau setidaknya, aku akan mencari makan di pos depan gerbang perumahan.

Setelah kukabarkan pada Dila, adikku yang dipercayakan mengurus rumah keluarga ini menyangkut ikhwal ikan gabus itu, aku akhirnya tahu, ikan itu konsumsi khusus pemulihan Ibu Salama sehabis operasi tutup kandungan.

***

Sore hari yang ramah meneduhkan. Semilir angin kemarau mendesau dendangkan gemerisik lembut dedaunan. Sekawanan remaja berlalu di depan rumah yang masih bertelanjang bata tanpa plesteran, bernyanyi ria menuju lapangan voli. Seperti biasa, mereka tak luput memanggilku sambil lalu.

Kebanyakan pemuda di pulau ini memang mengandrungi banyak jenis olahraga. Tanah yang lapang dijadikan arena futsal, voli, dan takraw. Semuanya kerap dijejeri antrean orang yang ingin juga bermain di saban sore. Jika kau senang olahraga, jangan pernah luput membawa sepatu ke pulau ini. Mereka bukan hanya lihai mengolah permainan, namun juga tangguh lagi kuat. Meski bermain di atas tebaran debu, gengsi mereka tercoreng bila tak bersepatu. Satu hal jangan kau sangsikan, mereka ramah dan asyik walau kadang kala norak.

Pekikan tawa dan sorak sorai di lapangan voli mulai jadi semacam daya tarik sore ini. Sesekali terdengar tawa para gadis remaj. Saat kuraih kaus kaki untuk bersiap-siap menyusul ke lapangan, suara perempuan dari dalam rumah seolah menahanku.

“Sebentar lagi Mama Pudding datang menemuimu. Ia ingin kau bersama suaminya, sore ini ziarah ke makam mendiang ayahnya.”

Lemas. Badanku seketika berat. Dalam beberapa kejap aku tak mampu bernafas dengan nyaman. Aku mengalami syok sepersekian detik.  Aku akan ke pekuburan tempat yang, bagiku belum bisa kukatakan ramah. Aku mulai membatin. Entahlah, aku seperti memiliki riwayat traumatik tentang kuburan dan sekelumit tentangnya. Desakan dari ibu tak kuasa kurayu untuk menolak.

“Baiklah, dengan niat membantu walau dada berdegup tak biasa, apa boleh dikata, tak ada keringat bagiku sore ini”.

Hanya bersisa beberapa menit lagi matahari lenyap dari permukaan laut. Aku berusaha menenangkan batinku dirembang senja yang remang di atas pusara itu. Berusaha menuntaskan bacaan Yasin yang kutartilkan dengan sangat tidak khusyuk. Jantung dan jemariku sama getarnya. Sebenarnya, aku tidak takut pada kematian. Hanya saja di kepalaku tidak henti membayang dan menerka bila seleksi yang tanpa tanya itu menyahut namaku.

Tubuhku kini dipenuhi kelesuan yang menyiksa. Aku bahkan tak mampu membayangkan kalau diriku pingsan di taman duka ini. Sekali lagi kuyakinkan batin dan nyawaku, inilah yang mampu kuupayakan meski tak diulur langsung oleh tanganku. Meski ilmu itu tak kuraih di meja kuliah, aku telanjur disebut terpelajar sebab hingga kini masih saja disebut mahasiswa.

Bagiku, menjadi mahasiswa di pulau ini adalah ancaman bagi mentalku. Segala hal akan dibebankan pada status yang kusandang. Tak terkecuali khotbah Jumat, warga sangka semua itu ada dosennya. Tak sampai di situ, perempuan remaja sepertinya malu dalam pergaulan sehari-hari. Itu hal yang membelenggu, kawan.

Mampu melantungkan kalam Tuhan, adalah mahar yang istimewa melebihi predikat sarjana apa pun di kampung ini. Aku bukanlah satu-satunya orang yang punya bakat itu. Di kota, sebutan untuk Makassar bagi orang di kampungku, ada pandangan yang entah berdasar apa, mereka berasumsi: “Orang pulau itu rata-rata pintar mengaji”.

Kami tidak sekadar bangga pada hal itu. Buta akan huruf hijaiyyah adalah momok bagi sebuah keluarga di sini. Betapa tidak, bukan hal mudah menghadirkan dokter atau tenaga kesehatan di kampung ini. Bila ada warga dalam pesakitan, orang akan memanggil orang pintar. Doa merekalah yang diyakinkan sebagai sarana penawar sakit. Tentu saja ayat Alquran yang dibacakan mesti benar pelafalannya. Bila berhalangan, keluarga terdekat menjadi pilihan yang akan menabur doa suci itu.

Tidak hanya itu. Sakitnya warga bukan semata sangsi atas lingkungan atau pola hidup mereka yang tidak sehat. Tetapi juga teguran dari para leluhur dan kerabat mereka yang telah berpulang. Satu kepekaan mistik dalam keyakinan warga yang pada umumnya suku Mandar ini.

Dua hari yang lalu, berseliweran kabar tentang kondisi seorang warga yang sakit. Aku lihat ibu dan saudara ayahku bertolak ke ujung kampung dalam rangka membesuk si orang sakit. Di kemudian hari dalam persiapan berangkat ke kota Pangkajene, kuketahui Ibu Salama itulah yang sedang melawan deritanya. Mungkin itu juga sebab ia memaggilku seminggu yang lalu menggelar Yasinan di kubur dan sedikit acara mabaca ande, kecil-kecilan di rumahnya.

Atas kesepakatan keluarga melihat kondisi Ibu Salama yang sudah beberapa hari terbaring lesuh di rumah saudaranya, ia pun kini enggan makan walau sesuap. Ia mesti dibawa ke kota untuk mendapat perawatan medis. Di sini tak ada satu pun perawat. Biasanya, pada bidanlah mereka berkonsultasi kesehatan. Namun sayang, sudah beberapa bulan ini mereka tak kunjung tiba. Apalah daya para orang pintar bila dalam situasi kronis macam ini. Ibu Salama sejatinya dalam kondisi hamil. Perutnya terlihat semakin membesar.

“Ia mesti dikembalikan pada dokter yang menanganinya.” Usul Sando yang tak tahu menahu apa itu kista, tutup kandungan, dan jenis penyakit kandungan lainnya.

Tanya dan rasa keheranan mewabah di kepala warga seisi pulau. Ibu Salama memang benar-benar hamil. Padahal belum setahun ia melahirkan. Anehnya, ia telah tutup kandungan bersamaan dengan diangkatnya kista dari mulut rahimnya. Kondisi ini mendatangkan resah pada keluarga.

Sebelum memilih menutup kandungan, Ibu Salama sebenarnya mendapat predikat positif hamil dari dokter di Makassar sejak beberapa hari lalu dengan tidak menapikan keberadaan kistanya.

“Berdoalah, ibu. Semoga ibu kuat sehingga dengan berkembangnya bayi, kista ibu semakin mengecil. Langkah mengangkat kandungan sekalian kista mungkin juga dilakukan”. Apa yang disampaikan dokter seperti menyuluk sebuah harapan bagi Ibu Salama ketika itu.

Bagi Bapa Pudding dan istrinya, hidup di Makassar tidak memenuhi standarisasi nominal di dompetnya dengan keberadaan anak-anaknya yang sedang menikmati puncak jajan dan mainan masa kecilnya. Itulah mungkin hingga ia memilih menetap di Pangkajene saja. Boleh jadi itu juga alasan ia memilih untuk berhenti memiliki momongan.

Pilihan menetap di pinggiran kota Pangkajene tidaklah sumbang. Ia bisa beristirahat jauh dari kegaduhan kota yang tak kunjung tidur. Di kota lemo doang ini, Mama Pudding beberapakali melakukan konsultasi kepada salah seorang dokter di rumah sakit umum. Kiriman uang dari saudara laki-lakinya di Gorontalo lumayan membantu biaya selama di kota.

Berlainan dengan konsultasi awal di Makassar. Di rumah sakit umum kota Pangkajene, Ibu Salama justru dinyatakan tidak hamil. Di sini pula ia melaksanakan operasi pengangkatan kista dan tutup kandungan. Nyeri di perut yang menderanya selama ini merupakan efek dari kista yang kian merebak menurut dokter. Namun sesudah operasi itu, keluh dan kesah dalam relung jiwa seperti lenyap secara perlahan. Saatnya menata kembali hidup baru di dusun yang saban hari dalam kurungan air laut ini.

Perjalanan paling menyenangkan adalah perjalanan kembali ke rumah. Mengutip ungkapan salah seorang teman. Begitulah sepertinya yang dirasakan Ibu Salama dan keluarganya sekembalinya ke pulau pasca operasi. Namun kehendak Tuhan, tidak sampai setahun di pulau, justru ibu yang kakinya tersaruk-saruk lemah bila berjalan itu hamil dengan segala kenyataannya. Dan pada akhirnya, dokter di sini pula yang kembali mempertegas sinyal kehamilannya.

“Kembalilah dulu ke pulau. Menjelang persalinan baru ibu datang lagi.” Sabda dokter suatu waktu saat Ibu Salama kembali memeriksa kandungannya.

Ada rintihan terendam dan tertahan dalam diri Ibu Salama yang tak kuasa ia keluhkan. Berbagai pertanyaan terus bergelantungan di benaknya. Keadaan ini tentu saja memengaruhi mental Ibu Salama juga kondisi sang bayi dalam kandungan. Belum lagi segala jenis obat yang dikonsumsi pasca operasi. Tentu menabuh bahaya pada diri ibu dan buah hati.

Bapa Pudding dan istrinya tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Antara bahagia menyambut datangnya buah hati yang tak disangka atau, keluar dari tekanan kesedihan yang kelam. Hingga tibalah masa bersalin itu, ibu dan ayah beserta keluarga menyiapkan diri menyambut sang bayi di rumah sakit umum daerah kota Pangkajene. Lalu lalang keluarga dan para pembesuk di depan ruangan teratai menanti tangis sang bayi di sore jelang magrib. Tetapi tak kunjung tiba.

Seperti menggantang asap, seketika segenap keluarga mesti menahan suka dan menyaput wajah dengan datar. Bersedia melapangkan segalanya. Sang ibu menuai luka di atas luka. Menyiapkan persediaan kerelaan yang cukup. Tak ada tangis bayi. Tak ada suka cita. Bening putih kemerahan bayi tanpa tawa, tangis, dan dosa itu dimandikan seorang perawat di kamar jenazah. Ia kembali pada mulanya.

Senja kian larut. Rona merah membentang di atas langit seperti menaruh karangan bunga pada kaki sang bayi. Aku bergegas ke pasar untuk segala keperluan jenazah. Aku pun turut mengiringi pemakaman yang disegerakan sebelum esok hari.

Kesedihan dan kegembiraan setiap saat seringkali bertamu tanpa menyapa. Bapa Pudding harus mendapati dirinya dalam kesabaran penuh seutuhnya. Ketegaran hidup yang terancam. Siapa sangka gulungan derita ini dirinyalah yang menghikmahi segalanya. Anak terakhirnya lelap di kota, sedang sang istri terkasih menutup usia di kampung halaman. Hanya berselang beberapa bulan sesudah kepergian bayinya. Semua akan kembali pada asal dengan jalannya sendiri.

***

Hari ini, 17 April 2016, mahasiswa tumpah rua lagi ke jalan menuntut perbaikan pelayanan kesehatan rumah sakit umum yang amburadul. Kabar tentang meninggalnya salah satu pasien atas dugaan mala praktik jadi konsumsi para aktivis dan media massa. Aku salah satu koordinator lapangan dalam aksi kemanusiaan itu berteriak dan meraung sejadi-jadinya. Memaki. Mencaci. Menuntut keadilan.

Dalam aksi itu, seperti biasa, kami dihadapkan pada beberapa orang perwakilan rakyat untuk berdialog langsung di gedung parlemen. Wakil ketua DPRD dan salah satu anggota dewan dari daerah pemilihan kepulauan menemui demonstran. Pada giliran berbicara, aku mengurai wajah pelayanan kesehatan di Pulau Butung-Butungan, Desa Kanyurang, Kecamatan Liukang Kalmas.

“Kami baru dengar ada hal seperti itu di Kalmas dan itu akan kami sikapi.” Tegas wakil rakyat masyarakat pulau itu.

Mahasiswa terus mencoba membangun konsolidasi aksi unjuk rasa lanjutan. Kali kedua, aku tak lagi turut serta menggawangi demonstarsi itu. Dengan beberapa langkah-langkah imajiner yang kutempuh, aku tahu ada kubu yang mencoba mengais di tengah keterjepitan. Mengutip ejekan mendiang Asdar Muis RMS yang dilayangkan padaku suatu waktu.

Aku memilih mengikuti acara-acara dialog yang selanjutnya banyak digelar para pemerhati kesehatan di kota Pangkajene, dari pada turun ke jalan dan terjual dengan segala bentuk pengklaiman.

Seorang Bibi yang mengajar di pulau sekali waktu menanyakan perihal keberadaanku karena jarang pulang ke rumah. Lalu kujelaskan tentang aksi demonstrasi yang kami gelar menyoal pelayanan rumah sakit.

“Rumah sakit?” Tanyanya heran.

“Iya, dan sekelumit pelayanan kesehatan di kampung kita, bibi.” Jawabku berlagak.

Selanjutnya, aku hanya bisa diam mendengar ceritanya mengenai pendapat orang dan keluarga di pulau tentang kisah pilu almarhum Ibu Salama ketika operasi di rumah sakit umum kota Pangkajene.

***

Catatan:

Palumara: Masakan ikan berkuah

mabaca ande: Kenduri tolak bala

lemo doang: Jeruk dan Udang

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This