Bukan Aku, Ada Harimau dalam Tubuhku

Kartu selular AS produk Telkomsel pernah menjadikan pepatah Mulutmu Harimaumu sebagai tagline iklan. Terbukti, frasa Mulutmu Harimaumu menjadi popular di ruang sosial jika ada seseorang menemukan dampak dari ucapannya. Menjadi boomerang yang menyerang diri sendiri.

Pepatah merupakan salah satu produk bahasa kebudayaan yang meminjam keberadaan makhluk lain di luar manusia. Dipilihlah harimau sebagai ungkapan yang dianggap sebagai petunjuk kebuasan yang dapat menelan apa saja.

Indra Tranggono, cerpenis dan pemerhati kebudayaan dari Yogyakarta mengajukan otokritik mengenai tidak tepatnya pencatutan harimau sebagai analogi. “Bukankah harimau tidak akan mengerkah kepala atau menerkam manusia jika ia tidak diganggu dan terancam kehidupannya? Harimau juga tidak pernah pamer kekejaman atau kezaliman kepada manusia. Justru manusia yang sering menzalimi harimau dengan merusak habitat, membinasakan, dan mengambil belulangnya atas nama kerakusan dan sakit jiwa.” Demikian tulis Indra dalam opininya di Kompas edisi Senin, 6 Februari berjudul Mulutmu, Panggungmu.

Relevansi mulut menemukan panggungnya di ruang publik. Ini terkait dengan isu politik elektoral yang sedang berlangsung di ibu kota negara namun gaungnya merayapi kamar warga termasuk yang tidak memiliki hak memilih di luar ibu kota. Perangkat media sosial menjadi penyambung sehingga kita yang menggenggamnya turut ditimpuki.

Di grup obrolan seperti WhatsApp, penyebarannya begitu cepat berpindah yang menjadikan anggota dalam grup secara dinamis membentuk dua kubu pro dan kontra. Di salah satu grup WA yang saya ikuti, hampir setiap hari, seorang anggota mengirimkan warta yang isinya menyudutkan kelompok tertentu. Mulanya menjadi bahan diskusi dan lama kelamaan menjadi lelucon karena yang membagikan warta tak siap berdiskusi.

Warta yang dibagikan tentu saja bersumber dari media online yang jauh dari etika penyajian informasi. Demokrasi memang selalu riuh sebagai syarat kebebasan berpendapat, hanya saja kebebasan itu menjadi banal karena tidak ditunjang argumentasi rasional. Kementrian Komunikasi dan Informatika pernah merilis data kalau sejauh ini sudah terdapat 700.000 hingga 800.000 situs berisi konten yang dapat merugikan masyarakat yang mencakup penipuan dan berita bohong.

Litbang Kompas melakukan jajak pendapat pada 1 hingga 3 Februari di 14 kota di Indonesia: Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Palembang, Pontianak Samarindah, Manado, Makassar, Ambon, dan Denpasar. Usia responden 17 tahun ke atas berbasis rumah tangga sebanyak 548 yang dihubungi secara acak. Salah satu hasilnya, terdapat 14, 6 respoden mengaku tak bisa membedakan yang mana media resmi menerapkan etika jurnalisme dengan media abal-abal. (Lengkapnya lihat Kompas edisi Senin, 6 Februari).

Dorongan mengumbar kebencian atau membagikan berita bohong memanglah didasari dendam atau kemarahan

Lalu, bagaimana media abal-abal itu bekerja dalam menyajikan informasi. Di balik menyebarnya konten berisi provokasi tentu ada yang membuat. Mereka tentu bukan harimau dalam pengertian yang sebenarnya. Binatang berkaki empat yang hidup di hutan. Begitupun yang menyebarkannya hingga sampai di meja makan kita.

Bisa jadi kita terlibat dalam prosesnya dan tidak sadar telah melakukan. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam rilis data pada November 2016 menyebutkan jumlah pengguna internet mencapai 132,7 juta yang artinya mencapai 51,8 persen dari total penduduk Indonesia. Nah, nama kita ada dalam data itu.

Di media sosial, kita selalu saja ingin tampil melampaui realitas yang dijejali. Sebisa mungkin foto profil yang digunakan adalah yang terbaik. Urusan ini, sekali lagi, dimudahkan kehadiran teknologi dalam genggaman. Produk hape beragam merk berlomba melengkapi aplikasi editing foto termutakhir. Kita menjadi yang lain.

Milan Kundera, novelis asal Ceko, jauh hari menyebutkan sebagai imagologi. Melakukan konstruksi yang menentangkan satu realitas dengan realitas gubahan sesuai keinginan. Ada kekuatan dalam juga dari luar menggerakkan yang dianggap wujud kebenaran teryakini.

Kebenaran itu hanya berputar dalam satu kelompok dan menapikan kebenaran dari kelompok lain. Pada dasarnya, situasi yang demikian merupakan pola skriptual. Dialog tertutup sebab khawatir kebenaran yang sudah digenggam melahirkan keraguan.

Perlu diingat kalau keluhan yang bisa berupa curahan atau kritik sebagian besar ditumpahkan di media sosial. Mengapa di sana, sebab itulah ruang mendapat respons lebih cepat dan beragam meski tak semuanya berakhir dengan dambaan.

Sejumlah kasus pelaporan seseorang yang dianggap mencemarkan nama baik sudah mengemuka dan merupakan kelanjutan diskursus dari pepatah mulutmu harimaumu. Dorongan mengumbar kebencian atau membagikan berita bohong memanglah didasari dendam atau kemarahan. Itu juga sifat yang melekat pada manusia ketika rasa welas asih dikalahkan.

Ini mengingatkan pada pengakuan Margio, tokoh dalam novel Lelaki Harimau gubahan Eka Kurniawan, yang mencengkram dan menggigit leher Anwar Sadat hingga tewas. Ketika diinterogasi, dengan polos ia menjawab: bukan aku, ada harimau dalam tubuhku.

Bagi yang sudah membaca novel itu tentu tahu, tindakan Margio tidaklah berdiri sendiri dalam sekejap. Ada lipatan peristiwa sebelumnya yang mendorongnya bertindak demikian.

*

Gambar: Repro sampul novel Lelaki Harimau

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This