Bocah Pemburu Koran

 

“…Kapankah dia besar//Kapankah dia bahagia//Kapankah dunia jadi miliknya//Banyak orang berkata si Kecil indah dimanja//Wahai tangan lembut mulia angkatlah dirinya//…

*

Kutipan tembang dangdut yang dipopularkan Rita Sugiarto tiba-tiba saja membawa Anda masuk lebih dalam ke makna tembang itu. Ihwal lahirnya tembang itu sebenarnya ia tidak paham. Namun sejatinya, dirinya memang termasuk penikmat tembang dangdut. Sejak selesai makan siang tadi, ia terus menghubungkan lagu itu dengan kenyataan yang baru saja dihadapi. Akan tetapi masih saja ia sulit menemukan jalan akar takdir itu. Ia mulai menerka. “Adakah ini karma?” Anda membatin sembari bangkit meninggalkan warung makan di siang hari yang memanggang ubun-ubun.

*

Derit suara mesin-mesin mulai memompa kebisingan. Besi yang saling bergesekan menimbulkan rasa ngilu. Satu dua bengkel di tepian jalan poros pintunya mulai terbuka setengah menyiapkan perabot perbengkelan. Di depan bengkel yang diselai jalan raya, beberapa orang berpakaian seragam masuk pada sebuah gedung besar yang memang terbiasa ramai. Kecuali Sabtu dan Minggu. Di kiri dan kanan gerbang gedung terdapat empat penjaga yang sekaligus mengatur lalu lintas bila penghuni gedung itu hendak menyeberang.

Seorang ibu dalam balutan mukena putih yang agak luntur menjinjing kresek putih berisi beberapa donat dan jalangkote berjalan di atas trotoar melawan arus kendaraan. Dilaluinya seorang berseragam serba kuning yang hanya terlihat matanya saja di bawah pohon rindang musim kemarau. Orang itu menyapui daun kering dan melempar senyum pada ibu yang melintas di sisinya. Pagi yang biasa. Pangkep tak lagi lelap.

Di atas rumah panggungnya yang sedikit reot, usai mematangkan sarapan sekalian makan siang nanti, Nur Asia meraih gundukan pakaian di atas kasur dalam ikatan sarung. Ia kini siap-siap menghadapi setumpuk cucian . Setelah sekelumit pekejaan itu kelar, barulah ia akan meminang bayinya. Menyuapinya di atas kereta yang beberapa hari lalu dibeli sang Suami. Betapa bahagia hati Nur Asia melihat anak pertamanya yang kini bermain riang di atas kereta barunya. Nur Asia menyanyikan lagu anak-anak untuknya dan terus mengajak bercakap bayi lelakinya yang hanya akan dibalas dengan senyum polos Irfandi, nama bayi itu.

Siang mulai mengembang sesukanya. Angin menghantarkan panas ke dalam rumah. Biasanya, Nur Asia, pada waktu-waktu seperti ini mulai sibuk lagi di dapur seraya terus mengajak si bayi berbincang. Di ruang tamu, Irfandi yang berumur delapan bulan berusaha meraih ukiran-ukiran arab berwarna keemasan yang dipajang di dinding. Sesekali ia berusaha berlari membuat keretanya melesat cepat ke arah dapur lalu kembali lagi ke ruang depan. Di atas meja televisi, ada gelas-gelas antik, Irfandi berusaha meraih sembari ngomong icca, yang dimaksud cecak.

Irfandi sudah mulai melatih lidahnya berbicara. Tiba-tiba terdengar suara berteriak “Asia! Apa yang jatuh! lalu semua orang tanpa diperintah serentak menahan nafas sepersekian detik.

*

Di seberang bagian kiri kantor daerah, di ujung deretan kantor-kantor partai, warung makan yang biasa dipadati para pegawai kembali ramai. Anda yang memang seharian ini belum satu apapun turun ke perutnya kecuali air putih, turut bergabung. Ia satu-satunya pengunjung warung yang tidak berseragam. Di depan warung itu ada ayunan besi. Seorang anak yang biasa Anda temui bila tiba-tiba anak itu berlari masuk ke ruang kantor yang tidak jauh dari rumahnya, sibuk dengan dirinya sendiri di atas ayunan. Pemandangan ini menarik perhatiannya. Tatapan mata yang bingar namun raganya lamban dalam bergerak. Begitu Anda mula mengenal anak itu. Keseringannya bertamu menemui temannya di kantor itu membuat pemuda asal pesisir ini merasa ingin terasa dekat dengan bocah pendiam itu.

Sepiring nasi kuning dengan sepotong ayam goreng seharga tujuh ribu rupiah lumayan bagi Anda untuk bertahan di warung ini. Menunggu orang-orang perlahan beringsut masuk ke tempat kerjanya masing-masing. Setelah warung lengang, ia akan memulai melancarkan misinya. Trik yang Anda mainkan memang hampir sukses. Si pemilik warung pun perlahan tenggelam dalam aktivitas tanpa ia sadari. Pada titik inilah Anda mulai kembali bekerja memainkan perannya.

Bersamaan datangnya suara teriakan itu ke telinganya, ada suara  derap yang bergemuruh dari arah depan rumah Nur Asia menuruni anak tangga samar terdengar. Asia bangkit dari dapur berlari ke ruangan depan dipenuhi rasa kaget. Firasat yang rumit semakin hendak memecahkan dadanya saat ia mulai sadar anaknya yang asyik berkereta tak ada lagi di dalam rumah. Ia langsung menuju pintu rumah yang terbuka lebar dan menyaksikan  segalanya dari atas. Saudara perempuan dan suaminya telah berleleran tangis meraih bayi malang  itu dari dalam keretanya yang baru saja jatuh dari atas rumah panggung.

Sejak kejadian itu, Nur Asia semakin menaruh perhatian lebih kepada anaknya. Irfandi pun seperti tak merasakan kesakitan apa pun, mejalani hari-harinya dengan bermain seperti biasa. Hanya saja sebutan icca yang biasa ia ucapkan enggan lagi tercipta dari bibirnya. Hingga memasuki usia tiga belas tahun, Irfandi malah menunjukkan sebuah kelainan. Jangankan menyebut icca yang semasa kecil ia biasa ucapkan menuruti ibunya, bahkan kini tak satu kata yang mampu lahir dari bibirnya yang kerap basah oleh liur. Semakin hari tubuh Irfandi terlihat tak berdaya dan tak bersemangat. Seolah-olah tubuhnya akan roboh ke tanah bila ia berjalan.

Teman seumuran anak lugu yang, orang sekitar rumahnya memanggilnya Ippang itu, kini sudah SMP. Tak ingin lekang akan terbitnya harapan, Nur Asia memasukkan anaknya ke Sekolah Luar Biasa di Minasatene. Nur Asia berkeyakinan mampu membawa kehidupan Ippang seperti anak-anak pada umumnya. Anaknya lahir secara normal di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep. Waktu masih perawatan di rumah sakit, bayi sempat terserang muntaber berminggu-minggu. Derita itu menyebabkan Ippang menangis  hampir setiap hari tiada henti.

Suatu ketika Nenek Ippang bersitegang dengan salah seorang suster karena meminta bayi itu jangan dibiarkan terus menangis. Perawat itu mengeja penjelasan dokter yang katanya, apabila bayi terus menangis, itu akan berpengaruh pada saraf si bayi. “Hati mana yang tega melihat bayi terus menangis. Kita juga tidak ingin anak ini menangis terus menerus,” balas si nenek dengan amarah. Namun, bukanlah ketegangan itu yang bersemai di hati Nur Asia. Penjelasan dari dokter itulah yang terus bergumam di hatinya ditambah peristiwa nahas yang menimpa anaknya empat belas tahun lalu sebelum ia bersama suaminya membuka warung makan di sebelah kiri kantor Bupati Pangkep. Hati Nur Asia mulai dialiri rasa tidak tenang dan mulai menguatkan lagi niat untuk si buah hati.

Dari sini Nur Asia menyekolahkan Ippang ke SLB sejak 2014 lalu. Sepulang sekolah, Ippang akan dijemput ibunya atau ayahnya bila tidak sedang ke empang. Usai berganti baju seragam, Ippang tidak akan mencari mainan atau meminta makan. Di sela ramainya orang di meja makan warung ibunya menanti pesanan, Ippang akan berjalan menyelinap dengan lemah dan sangat lamban. Menatap lantai dan sesekali melihat ke orang-orang di dalam warung dengan senyum yang setiap saat bergantung dengan mudah. Sembari menyiapkan hidangan nasi kuning, Nur Asia akan terus memanggilnya. “Ippang…Ippang. Jangan keluar, nak!” Tetapi, Ippang tidak akan menoleh lagi sampai ia lenyap di depan warung.

Ippang terus berjalan dengan kakinya yang tersaruk-saruk ke tanah. Ibunya, sejatinya tak perlu khawatir. Semenjak dua tahun disekolahkan, Ippang hanya punya dua tempat yangs sering dikunjungi. Bila tidak di rumahnya, itu berarti ia akan ke sebuah kantor yang tidak jauh dari rumahnya. Jika sampai di depan kantor itu, bocah ini akan berputar sejenak di sekeliling gedung. Jika tak menemukan apa yang ia cari, Ippang akan masuk ke kantor tersebut dan langsung berlari ke tempat koran. Bila hari itu belum masuk terbitan baru, Ippang akan menuju ke tempat sampah yang ada di belakang pintu kantor. Bocah ini tidak akan pulang sampai ia menemukan koran. Kebiasaan baru Ippang ini ia dapat semenjak ia bersekolah.

Kadang kala Ippang harus pulang dengan kecewa. Bukan lantaran ia dijemput ibunya dalam perburuannya mencari koran. Akan tetapi ia harus ikhlas menerima potongan-potongan kertas yang bukan koran dari Rudi, penjaga kantor. Bila dalam keadaan beruntung mendapat koran, Ippang akan berlari pulang dengan gembira tanpa perlu Rudi bersusah payah mencari-cari alasan mengelabui agar anak itu segera pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya, Ippang akan mengambil koran-koran yang ia dapat hari itu, lalu memilah gambar untuk ia gunting sendiri.

Hari kian mendekati sore. Tak baik bercerita dan berlama-lama menyudahi makan. Bila makannya lambat, maka lambat juga menuntaskan pekerjaan. Hanya saja perlu membedakan lambat menghabiskan makan dengan lama makan. Mungkin pesan orang tua dulu itu yang mampir ke kepala Anda sehingga ia memilih mengakhiri misinya dengan segala kecukupannya. Sebelum membayar nasi kuning pesanannya, ia bergumam dalam relung jiwanya. “Aku tidak dapat menyimpulkan apakah ini adalah karma”. Namun satu hal yang pasti. Karma adalah jalan takdir. Dia meninggalkan warung makan Nur Asia sore itu dengan lagu dangdut berjudul si kecil memenuhi kepalanya.

*

mm

Afdal AB

Mahasiswa semester akhir STAI DDI Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This