Berumah di Kampung Pangkep

Waktu menujukkan pukul 16:24 Wib ketika dua orang perempuan dan satu lelaki tambun turun dari mobil Avanza tergopoh mengangkat beberapa kardus berisi paket sembako di Kafe Torani. Sejumlah remaja berseragam merah bertuliskan Family 48 bergegas keluar dari dalam kafe membantu menurunkan sisa kardus yang masih ada.

Sore itu merupakan pengujung ramadan. Berawal dari obrolan di media sosial mereka kemudian bergerak. Mengusung nama Kampung Pangkep Community, aksi itu berwujud bakti sosial berupa pembagian paket sembako kepada tukang becak dan warga tidak mampu serta dirangkaikan dengan buka puasa bersama dengan anak panti asuhan Muhammadiyah Mattoanging.

Sejatinya, Kampung Pangkep bukanlah organisasi, melainkan gerakan untuk membangkitkan lagi kepedulian tentang Pangkep yang digagas melalui media sosial. Itulah dalam setiap kegiatannya, Kampung Pangkep tak pernah sendiri, seperti bakti sosial kali ini yang terselenggara atas dukungan Berita Pangkep dan juga Family 48.

Pengumpulan dana dilakukan melalui penjualan kaos. Jumlah yang terkumpul tak bisa dianggap sedikit. Lebih dari lima juta rupiah tentu cukup digunakan bakti sosial dan buka puasa bersama anak yatim seperti yang direncanakan semula.

Rombongan berkeliling ke sejumlah titik untuk membagikan paket sembako. Saya turut terlibat seperti rekan yang lainnya, Nur Fadilah, Rustam, Alif Rahman, dan Yunus. Anggota Family 48 yang berjumlah sekitar 20 orang turun langsung menyisir tempat mangkal para daeng becak yang sedang menunggu tumpangan.

Senyum kebahagian terlihat di wajah mereka—juga wajah yang menerima sembako. Dari Kafe Torani yang menjadi titik kumpul, rombongan bergerak menuju samping Bank Danamon dan langsung memberikan paket sembako kepada tukang becak yang dijumpai. Diteruskan menuju jalan Nangka dan terus berjalan menyusuri pelataran depan mesjid Mujahidin di sekitaran pasar Pangkajene. Rombongan panitia harus dipecah guna menemukan target utama. yakni para pengayuh becak

Sejatinya, Kampung Pangkep bukanlah organisasi, melainkan gerakan untuk membangkitkan lagi kepedulian tentang Pangkep yang digagas melalui media sosial

Berawal Dari Dunia Maya

Bakti sosial yang saya ceritakan di atas terjadi di tahun 2012 lalu, hal itu bukanlah kegiatan pertama Kampung Pangkep. Tetapi satu hal ciri yang selalu terlihat dari setiap kegiatan, semuanya selalu berawal dari obrolan kecil di jejaring sosial.

Kampung Pangkep memang lahir dari media sosial. Kurang lebih sepuluh tahun lalu, saat itu Facebook dan Twitter belumlah terdengar gaungnya. Era ketika Friendster masih berjaya dan media sosial berbentuk forum masih kuat, salah satu layanan yang hadir saat itu adalah ning.com. Sebuah layanan forum online. Dari sana melalui www.kampungpangkep.ning.com mulai dibuat.

Perlahan forum ini mulai ramai dikunjungi netizen warga Pangkep untuk saling berinteraksi. Dari usia sekolah hingga kelas pekerja. Dari yang berdomisili di Pangkep hingga warga perantauan turut meramaikan forum di Kampung Pangkep. Jika sudah chating, berasa berkumpul dalam satu rumah.

Anggota awal di jejaring itu berasal dari ragam profesi, seperti pegawai negeri dan swasta, serta guru. di antaranya, Wandy, Adiel Baligading, Al Amin, Fitri Mubarak, Rusdin, Muhamad Ilham Rauf, Mansyur Eppe, Awaluddin Syarif, Adnan Muis, M. Farid Makkulau, Abichoy, Thamrin, Idris Suhufi dan banyak lagi yang lain.

Dari obrolan sepakat untuk ingin membangkitkan dunia IT di Pangkep, dan saat itu yang paling mungkin dilakukan adalah memberikan pelatihan bagi guru. Maka digagaslah program Internet For Teacher di tahun 2009. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Telkom Speedy dan Dispora dan diselenggarakan di SMPN 2 Pangkajene.

Temu Netizen

Obrolan Kampung Pangkep tidak semuanya dilakukan secara online. Pada 25 September 2009, merupakan Kopi Darat (Kopdar) pertama para netizen yang meramaikan kanal Kampung Pangkep. Farid W. Makkulau, Hasan G Kuna, Syaifuddin Haq, Ancha, Gunawan Amir, Asran Idrus, Asrul sila, Ade Putra Balanipa, serta beberapa teman lainnya. Hadir untuk saling bertatap muka.

Dari Kopdar itu, semuanya berharap agar pangkep.ning.com menjadi salah satu situs yang menjadi wadah bagi warga Pangkep untuk saling berkumpul, berbagi dan peduli. Bupati Pangkep kala itu, Syafruddin Nur memberikan rekomendasi untuk dikembangkan menjadi situs resmi pemerintah daerah yang dikelola langsung oleh putra daerah sendiri.

Salah satu hasil pertemuan tersebut yang saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pegiat Kampung Pangkep adalah membuat ensiklopedia tentang Pangkep yang diberi nama PangkePedia. Sayangnya, sebelum ide ini terlaksana situs ning.com yang menjadi rumah Kampung Pangkep, tak lagi menggratiskan layanannya. Tetapi, bukan berarti Kampung Pangkep hilang di dunia maya. Jejaring sosial Facebook dan Twitter selanjutnya menjadi rumah baru.

Kampung Pangkep yang lahir di Facebook dan Twitter bisa disebut sebagai generasi kedua Kampung Pangkep, yang biasa disebut Kampung Pangkep 2.0. Setiap jejaring sosial tentu punya tipe berbeda, demikian pula dengan Kampung Pangkep 2.0 ini lebih banyak menjadikan dirinya sebagai pembawa kabar Pangkep yang dikurasi dari warta sejumlah media, kabar warga, atau komunitas.

*

Gambar: http://andihasbijaya.blogspot.co.id

mm

Nhany Rachman

Dikenal sebagai perempuan doyan makan bakso. Aktif di Aisyiyah Pangkep

X

Pin It on Pinterest

X
Share This