Bebas

Semalam saya menyimak satu film, dalam adegan yang bercerita tentang kehidupan. Christopher Johnson Mc Candless salah satu manusia yang pernah mencatat dan merasakan kebebasan itu. Bebas meninggalkan kehidupan materi, bahkan dengan Tuhan.

Ia lebih memilih hidup untuk menyatu dengan alam luas, meninggalkan ayah, ibu, adik kandungnya, begitu juga dengan kekasihnya. Mengukur diri dengan apa yang ada di sekitarnya, dengan penilaian moral dan memilih dengan kesendiriannya di usia yang tergolong muda, 23 tahun.

Menurutnya, tak bisa disangkal, bebas pergi kemana saja selalu menyenangkan hati. Lepas dari diri yang telah terhubung dengan pikiran dari sejarah, tekanan, hukum, dan kewajiban yang menjengkelkan, termasuk ijasah sarjana yang ia miliki. Walau pada akhirnya, ia menyadari akan suatu kebahagiaan dan ingin kembali, namun hal itu tak bisa dilakukan. Pada 18 Agusutus 1992 ia meninggal dunia dalam ruang kebebasannya.

Pengembaraan ini begitu mudah dengan semua uang yang kau bayar. Hari-hariku lebih menggairahkan saat aku tak punya uang. Aku putusakan, akan menjalani hidup seperti ini beberapa lama. Kebebasan dan keindahan alam ini terlalu indah untuk dilewatkan.  

Dalam film Into The Wild, keinginan bebas Cris muncul akibat dari lingkungan orang sekitarnya, yaitu orangtuanya. Pertengkaran dan hanya mementingkan nilai materi, hingga membuat ia ingin merasakan hidup tanpa itu semua.

Tak ada batasan, lepas berbicara, bergerak, berbuat, bahkan lepas selepas lepasnya dari kewajiban dan tuntutan dan juga perasaan takut. Layaknya seekor burung yang terbang menatap luas angkasa sekuat mengepakkan kedua sayapnya.

Pada akhirnya, kebebasan itu tidak akan lepas dari dua hal; Bebas dari Tuhan Mahasegala dan bebas tidak tergantung kepada sesama manusia

Apakah kata bebas, adalah bebas melakukan apa pun tanpa ada sesuatu yang membatasi – intervensi. Bebas ketika kita berbicara lalu merasakan kepuasan dan kemauan. Juga, ketika melewati, melompati garis, tembok, dan batas yang telah ditetapkan. Bebas adalah kita dan dunia kita sendiri tanpa ada siapa apapun yang mempunyai hak dalam dunia itu.

Bebas!

Bahkan, bebas pun dipratikkan sekelompok pemuda yang memainkan lagu tanpa musik di persimpangan lima menuju bandara Sultan Hasanudin. Bermodal tepukan tangan, mereka bebas menghibur para pengguna kendaraan yang tentu saja, tak bebas melewati isyarat setop lampu merah (traffic light). Para pemuda itu terus bebas menyanyikan lagu. Dan, tentu saja para pengguna kendaraan pun bebas memberi atau tidak! Seribu dua ribu rupiah.

Bebas juga diperlihatkan si Nina, anak dengan jilbab warna birunya menghampiri pengunjung warung kopi, menawarkan sebuah stiker bertuliskan abjad Arab sebagai tanda pengingat. Tetapi, para penikmat kopi pun bebas menolak membeli stiker yang ditawarkan si anak kecil itu.

Si Nina juga masih bebas memperlihatkan wajah kecewanya. Namun, saya juga, tentu saja bebas membeli stiker itu walau tidak ditawarkan dan, saya pun bebas menebus berapa nominal di atas harga yang ditetapkan.

Saya berfikir sejenak. Apakah kebebasan selalu berdasar dengan kekecewaan dan keinginan materi. Lihat saja para politikus yang selalu memiliki kebebasan untuk menciptakan hegemoni sebagai makanan di pikiran rakyat. Sangat terbalik! Tidak dengan kekecewaan tetapi selalu dengan fondasi kepentingan. Entah kelompok, golongan, ataukah individu.

Namun, pada akhirnya, kebebasan itu tidak akan lepas dari dua hal; Bebas dari Tuhan Mahasegala dan bebas tidak tergantung kepada sesama manusia. Di film Into The Wild, mencoba memberikan pemaknaan akan kata bebas itu sendiri yang terhenti dengan keinginan bahagia bersama orang sekitar kita.

*

Sumber gambar di sini

mm

Badauni A Palinrungi

Dikenal sebagai anak muda yang doyan berbicara KBBI

X

Pin It on Pinterest

X
Share This