Anak Muda Pelopor dari Kapoposang

Tribun Timur mengumumkan diri sebagai koran readership tertinggi se Indonesia Timur di tahun 2011 lalu. Pencapaian parlente itu diraih setelah Nielsen Media Research (NMR) merilis hasil surveinya.

Sebenarnya, saya tidak ingin membahas Tribun Timur atau NMR yang menjadi referensi tunggal periklanan di Indonesia. Melainkan seorang anak muda yang wajahnya pernah menyesaki satu halaman penuh edisi cetak Tribun Timur beberapa tahun lalu. Paragraf pertama di atas dimaksudkan sebagai penegasan saja bahwa wajah anak muda itu pernah popular di koran sekaliber Tribun Timur.

Tergopoh saya meraih telepon pintar untuk mengecek link broadcast seorang kawan. Benar saja, wajah anak muda yang saya akrabi itu dimuat di Tribun Timur. Saya menelepon kawan yang lain memintanya membeli koran Tribun Timur dan segera membawanya ke sekretariat. Menjelang magrib, koran itu telah ada dan benar adanya, foto Hasanuddin ada di sana lengkap dengan peci kebesaran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Rubrik Lifestyle, di halaman itulah wajah Hasanuddin terpajang dengan format aplikasi foto editing. Keterangan remeh tentangnya juga dituliskan. Hanya saja, keheranan muncul. Mengapa penulisan nama, tanggal lahir dan tempat kuliahnya berbeda. Merk baju, sepatu, celana dan telepon genggam juga tak sama dengan realitas Hasanuddin yang hampir saya temui saban hari.

Oh Tuhan! Tribun Timur keliru. Rupanya, wajah tampan Hasanuddin yang dipakai untuk memberitakan profil drg. Muhammad Arief Rasyid Hasan yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI. Hasanuddin sendiri saat itu sebagai Ketua umum HMI Cabang Pangkep.

Demikianlah ceritanya Hasanuddin memasuki dunia popularitas peraktivisian se Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar). Hingga kini, masih banyak orang mengira bahwa dirinya bernama drg. Muhammad Arief Rasyid Hasan yang pernah menduduki jabatan Ketua Umum organisasi mahasiswa tertua di Indonesia.

*

Siapakah sesungguhnya Hasanuddin?

Hasanuddin, akrab disapa Acang oleh mantan Kapolres Pangkep, Muhammad Hidayat, Hasan juga disebut sebagai anak muda pelopor. Di beberapa kunjungan Kapolres saat itu, Acang kerap diikutkan.

“Inilah anak muda kreatif, mantan ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam cabang Pangkep yang berhasil melakukan budidaya lobster tanpa sepeser bantuan dari siapa pun,” demikian pernyataan Hidayat yang dituturkan ulang oleh Jamal, karibnya di HMI.

Budidaya Lobster dipelajari secara otodidak dan nekat dijalankan dengan risiko kerugian. Namun, Hasan melaluinya dengan baik. Jadilah budidaya lobster sebagai tren baru masyarakat pulau. Banyak warga mengikuti jejaknya. Ratusan keramba telah dibuat menunggu bibit lobster.

Tantangannya lagi ada pada bibit lobster yang sejauh ini hanya diperoleh melalui penangkapan manual. Acang telah mengunjungi banyak tempat di Sulawesi Selatan mencari bibit lobster. Hasilnya nihil, sehingga banyak keramba tidak terisi.

“Ini bibit lobster yang disubsidi pemerintah,” ucapku pada Hasan suatu waktu sambil menunjukkan berita budi daya lobster di sebuah kabupaten di Jawa Timur di portal online.

“Itulah, mestinya pemerintah di Pangkep melakukan hal serupa,” kata Acang.

“Mengapa tidak menyampaikan ke dinas terkait.”

“Saya sudah lelah, Kanda. Sudah sering saya sampaikan.”

“Membuat keramba membutuhkan biaya sekitar lima jutaan untuk ukuran 4 x 3 m. Bibit lobster sebarat 10 kg senilai tiga jutaan. Jadi, hanya modal di bawah sepuluh juta dengan omzet ratusan juta rupiah sekali panen, masyarakat di pulau perlahan akan sejahtera. Tidak ada lagi anak putus sekolah. Tidak ada lagi yang mesti meregang nyawa karena tidak bisa berobat. Tidak ada lagi destruktif fishing dan sekelumit masalah sosial lainnya jika saja pemerintah melirik peluang ini sebagai proses,” jelas Hasan dengan raut yang menyiratkan kekecewaan mendalam.

“Bagaimana kalau mengajukan kerja sama dengan investor,”

“Itu bisa saja ditempuh, Kanda. Saat ini selalu saya upayakan. Tetapi, saya khawatir jika warga pulau harus menjadi pekerja di kampung halaman sendiri dan terjerat ke dalam lingkaran setan baru.”

“Iya, itu tantangannya,” balasku mencoba memahaminya. Obrolan malam itu kami tutup dengan janji bertemu lagi esok harinya, sebagaimana obrolan beratus-ratus malam yang telah lalu.

*

Acang saat ini masih terdaftar sebagai mahasiswa STAI DDI Pangkep sejak tahun 2006. Ia telat menuntaskan studi Syariah yang ditempuhnya karena aktivitas berjibun di organisasi dan usahanya merintis budidaya lobster. Namun, ia akan sarjana bagaimana pun caranya di waktu yang tepat. Sebagai mahasiswa rantau asal Pulau Kapopposang, Acang dituntut mandiri. Karena alasan klise, biaya kuliah menjadi sandungan sehingga ia belum sarjana.

Niat untuk mengabdi di kampung halaman, Pulau Kapopposang, mengantar Acang bergelut di Forum Masyarakat Maritim Indonesia sebagai ketua, ia memiliki koneksi cukup luas dan telah beberapa kali melakukan kegiatan kelembagaan.

Menurutnya, untuk menghentikan segala bentuk perilaku penangkapan ikan yang menyimpang, bahasa kerennya yang selalu ditentang oleh KBBI berjalan Badauni A. Palinrungi, disebut Destruktive Fishing. Masyarakat, haruslah didorong untuk merancang lahan penghasilan alternatif, dan yang paling penting adalah melakukan penyadaran supaya para nelayan kecil bebas dari jerat rentenir.

Acang adalah pribadi kuat, ia memiliki keberanian yang tak gampang terukur. Suatu waktu pada Kongres HMI di Jakarta, Acang ditemani Nasruddin, Ketua HMI Cabang Pangkep kala itu.

Berdua mereka menghadapi anak HMI dari cabang Bone yang diamuk amarah karena kelakuan peserta dari Pangkep yang dianggap mengundang perkelahian. Menurutnya, ini adalah risiko sebagai pemimpin. “Anggota yang berbuat maka kitalah yang harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Karena keberanian dan keinginan belajarnya yang kuat itulah, mengantarkan dirinya menjabat Ketua Bidang Perikanan dan Kelautan HMI Badko Sulselbar yang baru saja dilantik untuk periode 2016-2018.

Aktivitas Acang yang telah menasional dan wajah yang familiar se Sulselbar karena fotonya di pajang di Tribun Timur tak membuat Acang lupa lautan. Takdirnya sebagai anak pulau terus memanggil kehadirannya. Saat ini, Acang, didorong oleh tokoh-tokoh masyarakat untuk menjadi calon kepala desa Mattiro Ujung yang melingkupi pulau Kapoposang.

Acang hanya memiliki satu kekurangan di antara kekurangan yang lain. Eh, maksudnya. Ia masih enggan menikah. Padahal, wajah cukup menawan. Tinggi badan lumayan. Kulitnya hitam cetakan terik matahari lautan perjuangan membuat dirinya sangat seksi.

Saat ini, Acang, didorong oleh tokoh-tokoh masyarakat untuk menjadi calon kepala desa Mattiro Ujung yang melingkupi pulau Kapoposang.

Jika saja dirimu mati sebelum menikah, kau punah kawan dan tidak ada artefak sejarah yang bisa kami jadikan referensi bahwa engkau pernah hidup. Apa kau mengira, dengan menjadi imam tarawih di bulan Ramadan akan membuat Tuhan berbelas kasih padamu? Oh, tidak! Selama engkau belum menikah tetap saja agamamu belum sempurna. Jangan ikuti jejak Misbah Maggading dan Badauni A. Palinrungi yang sebelumnya telah mencuri star di rubrik sosok ini. Namun, dengan status yang masih kasihan. Jomlo.

mm

Muhammad Ramli Sirajuddin

Penulis lepas sekali. Mampu membedakan jenis kopi dengan mencium aromanya meski berjarak 100 m

X

Pin It on Pinterest

X
Share This