Agar Laut Tetap Biru

 

“…Itu dahulu berapa tahun yang lalu//Cerita orangtuaku//Sangat berbeda dengan apa yang ada//Tak biru lagi lautku//Tak buas lagi ombakku//Tak senyum lagi nelayanku//…”

***

Penggalan lirik tembang Tak Biru Lagi Lautku, gubahan maestro balada, Iwan Falls di atas mengingatkan melankoli laut yang menjadi sahabat manusia. Dalam kesusastraan, Ernest Hemingway, melalui novelet, Lelaki Tua dan Laut mengisahkan Santiago, nelayan tua bergulat dengan ikan marlin raksasa menggunakan alat pancing sederhana.

Esensi melaut yang ditunjukkan Santiago tidaklah berdasar pada hasil tangkapan yang banyak sebagai alat tukar mendapat uang melimpah. Ia meninggalkan pesan kalau laut adalah ruang yang harus dijaga sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Pergulatan manusia dengan laut tentu saja tak melulu kisah arif. Desakan ekonomi menjadi dalil oleh sebagian pencari ikan untuk mengeruk kekayaan laut dengan cara bengis. Pola pikir instan demikian menjadi peta mengarungi samudera untuk mendapat tangkapan yang banyak.

Jika Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menerapkan keputusan berani dengan mengebom kapal nelayan dari luar yang ditangkap mencuri ikan di perairan Indonesia. Maka beberapa kelompok nelayan di sejumlah daerah, tak terkecuali di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) menggunakan bom sebagai sarana mendapat ikan yang banyak. Peduli setan jika terumbu karang harus mati.

Metode tersebut menjadi tren beberapa tahun terakhir yang menjadikan kegiatan melaut para nelayan harus berhadapan dengan hukum. Praktik menangkap ikan dengan mengebom masuk dalam kategori ilegal (illegal fishing). Data menunjukkan kalau korban di pihak nelayan yang harus meregang nyawa sudah sering terjadi. Data lain menyangkut kerusakan biota laut juga sangat memiriskan.

Situasi ini menimbulkan ekses horizontal di tengah masyarakat. Apa yang dialami Irfan, pemuda dari pulau Sapuka, Liukang Tangaya yang berang menyaksikan nelayan di pulaunya menerapkan cara menangkap ikan yang justru merusak ekosistem laut. Selain mengebom, praktik menyelam menggunakan kompresor sebagai alat bantu pernafasan juga menjadi pilihan sejumlah nelayan. Metode tersebut juga tidak ramah lingkungan dan berdampak negatif bagi si pemakai.

Irfan nekat mengambil alat itu kemudian hendak melaporkan ke kantor kepolisian di daerahnya. Gayung tak bersambut sebab kantor polisi sedang lengang. Tidak ada petugas di tempat. Niat Irfan yang ingin melaporkan praktik ilegal penangkapan ikan di laut justru berbalik ke arahnya. Oleh si pemilik alat, Irfan dilaporkan balik atas dasar pencurian. Jadilah dirinya tahanan kota Kapolres Pangkep.

Apa yang dialami Irfan tentulah fenomena yang akan terus terulang jika cara-cara ilegal menangkap ikan kian marak dan tidak ada solusi. Jerat hukum barangkali saja sebatas efek jera sesaat. Buktinya, semua sadar kalu bom ikan sesungguhnya amatlah berbahaya. Tetapi, pilihan itu tetap saja ditempuh sebagai jalan meraih keuntungan.

Upaya membicarakan kelestarian laut sudah sering dilakukan yang melibatkan kelompok masyarakat, pengamat, nelayan, dan dinas terkait di suatu daerah. Hal inilah yang kembali diupayakan koalisi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Pangkep dalam dialog publik kali ini.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This