13 November 2010 Merupakan Pertandingan Sepakbola Terakhir di Pangkep

“Tanggal 24 Juni 1937 adalah hari terakhir sepakbola dimainkan di Buenos Aires. Sejak saat itu sepakbola, dengan seluruh aspek olahraga di dalamnya, menjadi bagian dari drama, dimainkan oleh satu orang dari dalam bilik, atau oleh aktor berkaus seragam dan direkam kamera TV.” Tulis Jorge Luis Borges dalam cerpennya, Esse Est Percipi.

Muatan cerpen itu banyak disalahpahami kalau Borges membenci sepakbola yang menjadi anomali sebagai seorang Argentina. Namun, bagi  Zen RS, Borges, dalam cerpen itu sedang mengingatkan agar tidak melupakan denyut sepakbola lokal yang menjadi akses masyarakat di suatu wilayah yang jauh dari Manchester, Roma, Madrid, atau Liverpool.

Geliat sepakbola lokal memungkinkan masyarakat terlibat dalam permainan sepakbola per se (yang nyata) dan bukan bias hasil teknologi. Persis di situ, jauh sebelum teknologi menyasar sepakbola sebagai laku industri. Borges di tahun 1963 ketika menulis Esse Est Percipi telah melihat tata sepakbola akan seperti sekarang ini.

47 tahun kemudian setelah cerpen itu dilahirkan. Berjarak jutaan mil dari Argentina. 24 tahun setelah Borges wafat di tahun 1986. Wilayah yang tak pernah dikunjunginya – atau sama sekali tak pernah didengar. 13 November 2010, perhelatan sepakbola dalam rangka Pekan Olahraga Daerah (Porda)  ke XIV mempertemukan Tim Porda Pangkep selaku tuan rumah dengan Tim Porda Palopo di laga final di Stadion Andi Mappe.

Dua bulan menjelang perhelatan Porda, Pangkep berbenah merampungkan fasilitas yang akan digunakan. Utamanya sekali renovasi stadion yang dikerja siang malam demi menjamin terlaksananya sejumlah pertandingan. Selain sepakbola, cabang atletik juga digelar di dalam stadion. Lebih dari itu, kehadiran stadion juga menjadi muruah tuan rumah dalam memberikan ekpektasi atas perhelatan olahraga lima tahun sekali antar kabupaten di Sulawesi Selatan.

Di sore yang panas, ribuan manusia memadati semua sudut stadion. Bisa diduga, puluhan pasang mata yang hadir adalah warga Pangkep dari segala kalangan. Ada anak-anak yang terus bermain di sisi lapangan hingga babak pertama usai. Rombongan muda-mudi yang tujuannya bukan untuk menonton tetapi untuk meramaikan saja – juga berdesakan di bangku stadion.

Lalu senja mulai nampak ketika wasit meniup semprit tanda babak kedua telah usai. Drama lalu dimulai di tiang gawang sisi barat. Penentuan pemenang ditentukan melalui adu penalti. Begitulah Tim Sepakbola Palopo meraih emas Porda di stadion Andi Mappe.

Kini, sudah tujuh tahun. Stadion Andi Mappe tetap berdiri mencapai waktu yang tepat kapan benar-benar difungsikan lagi. Menjumpai orang-orang di mulut pintu menunggu giliran masuk.

Minggu sore, 19 Maret, ketika bertandang ke stadion – ziarah atas peristiwa yang berlangsung pada 13 November 2010. Mungkin tepat jika itulah pertandingan sepakbola terakhir yang pernah digelar dan menemukan warga Pangkep saling berdempetan dalam satu lakon.

Berikut sejumlah foto yang direkam:

Dari atas tribun sisi utara. Paduan warna hijau, biru, kuning, dan merah di dinding juga tribun belum pudar. Menara air PDAM serupa senter menghadap ke langit terlihat jelas. Bangku pemain cadangan di tiang lampu sudah terbalik. Tiang gawang di belakangnya bukan permanen, melainkan gawang yang biasa digunakan oleh anak-anak latihan.

 

Menara api Porda XIV di sisi barat dalam stadion. Tumbuhan liar menggelantung di tiangnya.

 

Meski tidak banyak, setiap sore selalu saja ada yang datang berlari di tepi lapangan. Pilihannya memang cocok karena di ruang publik yang tersedia untuk jogging cuma di stadion.

 

Siapa melawan siapa!

 

Melihat lebih dekat rumput di lapangan serasa benih padi yang baru saja ditanam.

 

Seekor kambing terpisah dari rombongannya memakan rumput di sisi lapangan. Pintu stadion yang tidak ditutup memungkinkan ternak bebas masuk. Tiang gawang di sisi barat depan kambing itulah adu penalti dilakukan ketika Tim Porda Pangkep dikalahkan Tim Porda Palopo dengan skor 3-5

 

Tiang dan tembok bagian luar tribun sisi selatan dipenuhi coretan. Saban sore menjadi ruang pertemuan anak muda

 

mm

F Daus AR

Sebenarnya bukan siapa-siapa. Ingin pulang ke kampung bertani dan main bola di sawah. Sudah, itu saja.

X

Pin It on Pinterest

X
Share This